Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Monday, 3 June 2013

Utsman bin Mazh'un

YANG PERNAH MENGABAIKAN KESENANGAN HIDUP DUNIAWI
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama shahabat Rasulullah saw menurut urutan masa masuknya ke dalam Agama Islam, maka pada urutan keempat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un . · · ·
Anda ketahui pula bahwa Utsman bin Mazh’un ini seorang Muhajirin yang mula pertama wafat di Madinah, sebagaimana ia adalah pula orang Islam pertama yang dimakamkan di Baqi’ … ·
Dan akhirnya ketahuilah bahwa shahabat mulia yang sedang anda tela’ah riwayat hidupnya sekarang ini, adalah seorang suci yang agung tapi bukan dari kalangan yang suka memencilkan diri, ia seorang suci yang terjun di arena kehidupan Dan kesuciannya itu berupa amal yang tidak henti-hentinya dalam menempuh jalan kebenaran, serta ketekunannya yang pantang menyerah dalam mencapai kemashlahatan dan kebaikan.. ··
Tatkala Agama Islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majlis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah …. Dan ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mu’min lainnya, dari golongan berhati tabah dan shabar….
Ketika Rasulullah saw mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi, dan beliau siap menghadapi bahaya seorang diri, maka Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari muhajirin ini. Dengan membawa puteranya yang bemama Saib, dihadapkannya muka dan dilangkahkannya kaki ke suatu negeri yang jauh, menghindar dari tiap daya musuh Allah Abu Jahal, dan kebuasan orang Quraisy serta kekejaman siksa mereka ….
Dan sebagaimana muhajirin ke Habsyi lainnyaa pada kedua hijrah tersebut, yakni yang pertama dan yang kedua, maka tekad dan kemauan Utsman untuk berpegang teguh pada Agama Islam kian bertambah besar.
Memang, kedua hijrah ke Habsyi itu telah menampilkan corak perjuangan tersendiri yang mantap dalam sejarah ummat Islam.  Orang-orang yang beriman dan mengakui kebenaran Rasulullah saw serta mengikuti Nur Ilahi yang diturunkan kepada beliau, telah merasa muak terhadap pemujaan berhala dengan segala kesesatan dan kebodohannya. Dalam diri mereka masing-masing telah tertanam fithrah yang benar yang tidak bersedia lagi menyembah patung-patung yang dipahat dari batu atau dibentuk dari tanah liat…..!
Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib serta pendeta-pendeta. Serta agama itu jauh dari agama berhala yang telah mereka kenal di negeri mereka, begitu juga cara penyembahan patung-patung dengan bentuknya yang tidak asing lagi serta dengan upacara-upacara ibadat yang biasa mereka saksikan di kampung halaman mereka. Dan tentulah pula orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang muhajirin ke dalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi.
Tetapi semua yang kita sebutkan tadi mendorong Kaum Muhajirin berketetapan hati dan tidak beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap Islam dan terhadap Muhammad Rasulullah saw. …. Dengan hati rindu dan gelisah mereka menunggu suatu saat yang telah dekat, untuk dapat pulang ke kampung halaman tercinta, untuk ber’ibadat kepada Allah yang Maha Esa dan berdiri di belakang Nabi Besar, baik dalam mesjid di waktu damai, maupun di medan tempur di saat mempertahankan diri dari ancaman kaum musyrikin ….
Demikianlah Kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tenteram, termasuk di antaranya Utsman bin Mazh’un yang dalam perantauannya itu tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat saudara sepupunya Umayah bin Khalaf dan bencana siksa yang ditimpakan atas dirinya.
Maka dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:
“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celahan orang-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyatielata’:
Dan tatkala orang-orang muhajirin di tempat mereka hijrah itu  beribadat  kepada  Allah  dengan  tekun serta mempelajari ayat-ayat al-quran yang ada pada mereka, dan walaupun dalam perantauan tapi memiliki jiwa yang hidup dan bergejolak…, tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut Islam, dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah ….
Maka bangkitlah orang-orang muhajirin mengemasi barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Mekah, dibawa oleh kerinduan dan didorong cinta pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyatalah berita tentang masuk Islamnya orang-orang Quraisy itu hanyalah dusta belaka.
Ketika itu mereka merasa amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota Mekah telah berada di hadapan mereka…?
Dalam pada itu orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya. Dan sekarang …, datanglah sudah saat mereka, dan nasib telah membawa mereka ke tempat ini…. !
Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan dihormati.
Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tak boleh ditumpahkan dan keamanan dirinya dan perlu dikhawatirkan.
Sebenarya orang-orang yang mencari perlindungan itu tidaklah sama kemampuan mereka untuk mendapatkannya. Itulah sebabnya hanya sebagian kecil saja yang berhasil, termasuk di antaranya Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia masuk ke dalam kota Mekah dalam keadaan aman dan tenteram, dan menyeberangi jalan serta gang-gangnya, menghadiri tempat-tempat pertemuan tanpa khawatir akan kedhaliman dan marabahaya ….
Tetapi Ibnu Mazh’un, laki-iaki yang ditempa al-Quran dan dididik oleh Muhammad saw. ini memperhatikan keadaan sekelilingya. Dilihatnya saudara-saudara sesama Muslimin, yakni golongan faqir miskin dan orang-orang yang tidak berdaya, tiada mendapatkan perlindungan dan tidak mendapatkan orang yang sedia melindungi mereka….
Dilihatnya mereka diterkam bahaya dari segala jurusan, dikejar kedhaliman dari setiap jalan. Sementara is sendiri aman tenteram, terhindar dari gangguan bangsanya. Maka ruhnya yang biasa bebas itu berontak, dan perasaannya yang mulai bergejolak, dan menyesallah ia atas tindakan yang telah diambilnya.
Utsman keluar dari rumah dengan niat yang bulat’ dan tekad yang pasti hendak menanggalkan perlindungan yang dipikul Walid. Selama itu perlindungan tersebut telah menjadi penghalang baginya untuk dapat menikmati derita dijalan Allah dan kehormatan senasib sepenanggungan bersama saudaranya Kaum Muslimin. Kaum Muslimin merupakan tunas-tunas dunia beriman dan generasi alam baru yang esok pagi akan terpancar cahaya keseluruh penjuru, cahaya keimanan dan ketauhidan…..
Maka marilah kita dengar cerita dari saksi mata yang melukiskan bagi kita peristiwa yang telah terjadi, katanya
“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah SAW, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya: ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku…..!
Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya: “Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan anda….”
“Kenapa wahai keponakanku…?” ujar Walid, mungkin ada salah seorang anak buahku yang menggangumu…?”
‘Tidak”, ujar Utsman, “hanya saya ingin berlindung kepada Allah, dan tak suka lagi kepada lain-Nya…..!” Karenanya pergilah anda ke mesjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”
lalu pergilah mereka berdua ke mesjid, maka kata Walid: “Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya”.
Ulas Utsman: “Begitulah kiranya apa yang dikatakan itu…., ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya……,hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala .. .!”
Setelah itu Utsman pun berlalu, sedang di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah sya’ir dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman jadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka.
Kata Lubaid:
“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah:kolong ini selain daripada Allah adalah hampa!”
“Benar ucapan anda itu”, kata Utsman menanggapinya.
Kata Lubaid lagi:
“Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna!”
“Itu dusta!”, kata Utsman, “karena kesenangan surga takkanlenyap.. .”.
Kata Lubaid: “Hai orang-orang Quraisy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagai mana sikap kalian kalau ini terjadi?”
Maka berkatalah salah seorang di antara mereka: “Si toloI ini telah meninggalkan agama kita .. .! Jadi tak usah digubris apa ucapannya!”
Utsman membalas ucapannya itu hingga di antara mereka tejadi pertengkaran. Orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman: “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh …!’
Ujar Utsman: “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah .. .! Dan sungguh wahai Abu Abdi Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu!”
“Ayuhlah Utsman”, kata Walid pula, “jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku …!”
“Terima kasih …!” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu.
Ibnu Mazh’un meninggalkan tempat itu, tempat terjadinya peristiwa tersebut dengan mata yang pedih dan kesakitan, tetapi jiwanya yang besar memancarkan keteguhan hati dan kesejahteraan serta penuh harapan….
Di tengah jalan menuju rumahnya dengan gembira ia mendendangkan pantun ini:
“Andaikata dalam mencapai ridla Ilahi
Mata.ku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridlai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam Agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan Agama yang haq
Waiaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena”.
Demikian Utsman bin Mazh’un memberikan contoh dan teladan utama yang memang layak dan sewajamya….
Dan demikianlah pula lembaran kehidupan ini menyaksikan suatu pribadi utama yang telah menyemarakkan wujud ini dengan harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa dan kata-kata bersa;irapnya yang abadi dan mempesona:
“Demi Allah, sesungguhnya sebelah mataku yang sehat ini amat membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah …! Dan sungguh, saat ini saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.. .!”
Dan setelah dikembalikannya perlindungan kepada Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan itu ia tidak merana, sebaliknya bahagia, sungguh-sungguh bahagia.. .!
Siksaan itu tak ubahnya bagai api yang menyebabkan keimanannya menjadi matang dan bertambah murni ….
Demikianlah, ia maju ke depan bersama saudara-saudara yang beriman, tidak gentar oleh ancaman, dan tidak mundur oleh bahaya
Utsman melakukan hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab, Umayah,’Utbah atau oleh gembong-gembong lainnya yang telah sekian lama menyebabkan mereka tak dapat menidurkan mata di malam hari, dan bergerak bebas di siang hari.
Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan shahabat-shahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak
kesulitan dan kesukarannya, dan dari pintu gerbang yang luas dari kota itu nanti mereka akan melanjutkan pengembaraan ke seluruh pelosok bumi, membawa dan mengibarkan panji-panji Ilahi, serta menyampaikan berita gembira dengan kalimat-kalimat dan ayat-ayat petunjuk-Nya ….
Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu tersingkaplah kepribadian yang sebenamya dari Utsman bin Mazh’un, tak ubah bagai batu permata yang telah diasah, dan ternyatalah kebesaran jiwanya yang istimewa. Kiranya ia seorang ahli ibadah, seorang zahid, yang mengkhususkan diri dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Ilahi ….
Dan ternyata bahwa ia adalah orang suci dan mulia lagi bijaksana, yang tidak mengurung diri untuk tidak menjauhi kehidupan duniawi, tetapi orang suci luar biasa yang mengisi kehidupannya dengan amal dan karya serta jihad dan berjuang di jalan Allah ….
Memang, ia adalah seorang rahib di larut malam, dan orang berkuda di waktu siang, bahkan ia adalah seorang rahib baik di waktu siang maupun di waktu malam, dan di samping itu sekaligus juga orang berkuda yang berjuang siang dan malam … !
Dan jika para shahabat Rasulullah saw. apalagi di kala itu, semua bejiwa zuhud dan gemar beribadat, tetapi Ibnu Mazh’un memiliki ciri-ciri khash …. Dalam zuhud dan ibadatnya ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihkannya menjadi shalat yang teuus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya.
Rupanya ia setelah merasakan manisnya keasyikan beribadat itu, ia pun bermaksud hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia.
Ia tak hendak memakai pakaian kecuali yang kasar, dan tak hendak makan makanan selain yang amat bersahaja.
Pada suatu hari ia masuk masjid, dengan pakaian usang yang telah sobek-sobek yang ditambalnya dengan kulit unta, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para shahabatnya.
Hati Rasulullah pun bagaikan disayat melihat itu, begitu juga para shahabat, air mata mereka mengalir karenanya. Maka tanya Rasulullah saw. kepada mereka:
“Bagaimana pendapat kalian, bila kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka ‘bah bertutup…”
“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah’, ujar mereka, “hingga Kita dapat mengalami hidup ma’mur dan bahagia… !”
Maka sabda Rasulullah saw, pula: “Sesungguhnya hal itu telah terjadi … ! Keadaan kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan kalian waktu lalu … !”
Tetapi Ibnu Mazh’un yang turut mendengar percakapan itu bertambah tekun menjalani kehidupan yang bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia … !
Bahkan sampai-sampai kepada menggauli isterinya ia tak hendak dan menahan diri, seandainya hal itu tidak diketahui oleh Rasulullah saw. yang segera memanggil dan menyampaikan kepadanya:
“Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu….!”
Ibnu Maz·h’un amat disayangi oleh Rasu!uilah saw. ….
Dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga dengan demikian ia merupakan orang muhajirin  pertama  yang  wafat  di  Madinah,  dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw berada di sisinya.
Rasulullah  saw.  membungkuk  menciumi  kening  Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga di saat kematiannya. Wajah Utsman tampak bersinar gilang-gemilang ….
Dan bersabdalah Rasulullah saw. melepas shahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib ….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntunganpun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”
Dan sepeninggal shahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakannya, selalu ingat dan memujinya …. Bahkan untuk melepas puteri beliau Rukayah, Yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:
“Pergilah susul pendahulu hita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un …!”

Saturday, 1 December 2012

Di mana benda liar berada



Sudah dua minggu lebih, dan walaupun sukar untuk dinyatakan, tapi saya rasa saya sudah merindui okelend. Okelend dalam ketidaksempurnaannya sebagai rumah pendidikan tertiari, rupanya ada tarikan pelik untuk dirindui. Dengan cuaca yang tidak menentu sejuk, manusia yang terlebih peramah dan waktu pagi yang panjang (aka waktu tidur selepas subuh yang lebih syok). Rindu?

Tapi ada teori lain. Mungkinkah saya menghidap penyakit kalcersyok apabila sampai sahaja di rumah? Masih memasukkan tangan ke dalam poket biarpun tidak sejuk, menyimpan lauk semalam untuk dimakan pada keesokan harinya kerana tidak mahu membazir, menunggu di hadapan laman sesawang asb untuk kemasukan duit biasiswa, memeriksa trademe dan membida untuk barangan yang kini dipisahkan tidak kurang tiga laut dunia…

Tapi saya tidaklah berani untuk masuk dapur untuk memasak, kerana itu sahabat, telah melampaui batas percutian pelajar macam kita. Kalcersyok itu lebih-lebih terasa apabila saya pergi ke masjid berdekatan untuk solat berjemaah, dan ketika kaki cuba mencapai makmum sebelah untuk merapatkan saf….

Oooops I have overstepped on certain boundary this time…

*****

“And the wild things roared their terrible roars and gnashed their terrible teeth and rolled their terrible eyes and showed their terrible claws.”

Tiada paradoks yang lebih mengecewakan apabila menemui kuot di atas dikesampingkan dengan haiwan-haiwan berbulu yang mempunyai ukuran kepala ke badan dalam nisbah 1/3. Kepala yang besar yang sering diasosiasikan dengan perkataan comel dan anime dan neko dan kawaii dan segala macam lagi jargon yang sewaktu dengannya.

Sungguh aneh apabila difikirkan; keganasan, keraksasaan, darah dan ketakutan yang mencengkam dapat di’downgrade’kan kepada bentuk kartun dan plush toy yang boleh dipeluk-peluk riang tanpa ada rasa bersalah. Kanak-kanak yang awalnya berlari-lari ke belakang almari, rak dapur, sofa, selimut kini tidak berasa takut lagi, malah dengan terbukanya membuat idealisme baru tentang benda yang sepatutnya ditakuti: ia boleh dicucuk-cucuk dan tiada bahaya yang dapat berlaku, bahkan ia seronok pula.

Bahkan ia seronok!

Saya teringat tentang falsafah cuti seseorang, bersangkut-paut pula dengan ayat zuyyina linnasi hubbus syahawat di dalam al-quran yang saya turut ambil, namun dalam konteks jahiliyyah yang lebih luas. 

Jahiliah itu seronok! Ia tidak hadir lagi dalam pakej topeng berdarah, pisau, dan terang-terang kemaksiatan seperti punk dan LGBT. Ia termodel, kini, dengan siaran astro terkini, game-game downloadable, bantal-bantal yang empuk, dan gajet-gajet skrin sentuh yang terbaru. Tambah-tambah pula, suasana cuti menjadi seakan-akan bancuhan sempurna untuk jahiliah yang pekat menerobos ke setiap anggota yang terbuka untuk menikmatinya.

Lemas dalam lautan udara.

Cuti ialah, dalam bahasa saya sendiri, ‘mengguntingkan pintalan-pintalan kerja rumah, rasa tanggungjawab, dan kawan-kawan sopan-jalan-tunduk-muka yang bersimpulan pada hari-hari bukan cuti’. Ia meloloskan jiwa remaja kepada apa yang kononnya ia mahukan, hiburan sementara dan kebebasan. Hiburan sementara yang disisipkan pada makna kata ‘oh, rileks sekejap takleh’. Kebebasan dalam erti kata pilihan yang tidak lagi perlu dituruti implikasi-implikasi dalam pembelajarannya.

Tidak perlulah saya memberi hujah agama seperti ‘Allah sentiasa melihat kamu’ dan sebagainya kerana kita semua tahu betapa janggal dan terseksanya mendengar pengisian sebegini di dalam usrah dan daurah. Tetapi kita semua perlu tahu hakikat cuti yang lain, hakikat yang datang kepada seseorang secara lembut dan subtle seperti perubahan paras lantai yang tiada bonggolnya. Yakni cuti itu fasa yang menakutkan, ia ialah the devil that you don’t know dan menambah kepada peribahasa tersebut, kita tidak mengetahui ia devil in the first place. Sungguh menakutkan sehinggakan apabila penghujung cuti tiba barulah kita mempunyai saat-saat terluang untuk merefleksi betapa teruknya cuti yang dilalui.

Maka, hadapilah cuti kali ini dengan senjata dan kekerasan, tidak lagi berenang sahaja dan go with the flow. Hadapilah ia dengan pertanyaan lantang di setiap kesempatan ‘Adakah benda ini bermanfaat untuk saya?’, ataupun pukullah kepala sendiri jika terjebak dengan jahiliah seperti apa yang kita akan buat bila kekurangan kafein semasa study week. 

Tidak ada lagi istilah cuti yang dilalui tanpa ada unsur refleksi sedikitpun! Tidak ada lagi watak-watak comel yang melemaskan kerana berjaya datang menghampiri kita. Semuanya makhluk bertanduk tiga, badan berbulu dan mempunyai kaviti mulut yang hitam berdarah yang berusaha mendatangi kita sambil menjerit ‘Lembu! Lembu!’


Blogger Jalan Simon

kecewa dengan layanan saf pakcik-pakcik tua....

Sunday, 21 October 2012

Antara kita dan burung. (Pengajaran kisah hudhud)

Saya menulis nota ini sebagai pengajaran pada kita semua selarikan dengan kepentingan Al-quran dan Assunnah. Al-quran bukan diturunkan untuk kamu berhujjah dan berhukum semata-mata atau mencari kesahihan ilmu semata-mata. Tapi ia untuk ditadabbur (dihayati) dan untuk diambil pengajaran. Tiada gunanya jika kita hanya mnggunakan Al-quran untuk mengatakan "kamu salah, kamu btol.. apa yang kamu sampaikan ini taqlid. dan tak ada asas." Saya tegaskan. TAK!!! Gunakan Al-quran ini sebagai panduan untuk kita semua sepanjang hari.


38-29: Kitab yang Kami (Allah) turunkan kepada engkau penuh berkah agar mereka mentadabbur(menghayati) ayat-ayatnya dan agar orang yang berakal sihat mendapat petunjuk
Surah Sad(38:29)


 Ini juga disebut oleh Allah dalam surah Al-Mu'minun:


23-66: Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (al-Qur’an) telah dibacakan kepada kamu namun, kamu selalu berpaling ke belakang.

23-67: Kamu menyombongkan diri, memperkatakannya (al-Qur’an) pada malam hari, perkataan-perkataan keji.

23-68: Tidakkah mereka mentadabbur(menghayati) firman (Allah) itu, atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?

23-69: Atau, adakah mereka tidak mengenal rasul mereka, kerana itu mereka memungkirinya?

23-70: Atau mereka mahu katakan: "Padanya (Muhammad saw) ada penyakit gila." Sebenarnya dia (Muhammad saw) datang kepada mereka dengan kebenaran, tetapi kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.

23-71: Sekiranya kebenaran itu tunduk kepada keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami (Allah) mendatangkan kepada mereka peringatan, tetapi mereka berpaling daripada peringatan itu.

23-72: Adakah engkau meminta upah daripada mereka? Jangan! Upah daripada Rab (Tuhan) engkau adalah lebih baik, dan Dia (Allah) adalah sebaik-baik yang memberi rezeki.

23-73: Dan sesungguhnya engkau benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.

23-74: Dan sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada akhirat, menyimpang (juga) daripada jalan.

23-75: Walaupun Kami (Allah) kasihan belaskan mereka, dan Kami (Allah) hilangkan kemudaratan yang ada pada mereka namun, mereka tetap terumbang-ambing terus menerus dalam kederhakaan mereka.

Allah bertanya, kenapa tidak menghayati ayat-ayat ini? Dan dalam ayat seterusnya, Allah menceritakan tentang orang yang tidak mahu menerima kebenaran. Wallahualam..


Pengajaran burung hudhud.

Kita kena tahu burung hudhud adalah tentera yang bekerja dibawah pemerintahan kerajaan Sulaiman a.s. Seperti yang kita sedia maklum, seorang tentera pasti terikat dengan disiplin dan peraturan tentera yang ketat. (bayangkan tentera kat malaysia, salah sikit da kena pumping) Namun begitu, lihat apa yang terjadi dalam kisah hudhud. Hudhud gagal untuk menghadirkan perhimpunan pagi. Dan dia pasti tahu, ketuanya (iaitu nabi Sulaiman) pasti akan menghukum dia.

Kita kena tahu burung hudhud ini, tidak datang bukan sebab dia nak ponteng tapi disebabkan dia pergi berjalan jauh hingga ke negeri Saba'. Di sana dia mengintip adakah orang-orang di negeri Saba' itu beriman pada Allah atau tidak. Malangnya tidak. Seperti yang kita tahu, mereka ini semua menyembah matahari. Nak dikatakan kat sini, demi menjalankan tugas syahadahnya, si hudhud sanggup meletakkan nyawanya sebagai taruhan.

Kesimpulan:

 1. Kita kena dan wajib untuk mendisiplinkan diri seperti hudhud yang menjadi tentera yang berdisiplin.. (die xdtg perhimpunan bkn sbb die xberdisiplin ea..)

 2. Tugas Syahadah kita, kita kena lakukan walau siapapun kita seperti yang dilakukan oleh burung hudhud. Apa yg dia mampu lakukan sebagai seorang tentera adalah menyampaikan berita tentang negeri Saba' pada ketuanya. Sebagai raja, Nabi Sulaiman menghantar utusan menyampaikan syahadahnya.

Di sini nak tunjuk, walau siapa pun kita, lakukan tugas kita sebagai Muslim dengan jayanya, sebagai seorang student, mungkin boleh melakukan dakwah dengan menunjukkan qudwah melalui result. Jika pemimpin pelajar-pelajar pula, mungkin boleh dengan menunjukkan qudwah, cara kita bergaul semua.

 3. Di sini, Islam menunjukkan keringanan apabila melakukan dakwah. Nak tunjukkan kat sini melanggar peraturan atau disiplin tentera itu sangat-sangat berat tapi kita lihat apa yang dilakukan dan dikatakan Nabi Sulaiman. Baginda kata, dia jatuhkan hukuman yang berat tapi sebaliknya berlaku. Dalam berdakwah, ada certain benda yang kita faham fiqh dakwah dan fiqh awliyatnya. Memang disiplin ilmu itu penting tapi. Fikirkan dan renungkan sendiri.

 4. Jangan terpengaruh dengan kisah-kisah yg isra'liyat yg  tidak sahih. Dan jauhi pada persoalan perkara-perkara yang tidak penting seperti:

-bagaimana rupa burung hudhud

-jauh mana negeri Saba' tu (yang penting dia jauh.) xyah la gado jauh mana.
-bagaimana rupa perhimpunan yang dilakukan nabi Sulaiman. (yang pasti dihadiri semua tentera)
-apa pangkat burung hudhud, mesti jeneral kan. tu sebab nabi sulaiman kenal dia.. (tak penting dan tak ada kena mengena langsung) haha

Gambar Hiasan

renung2 kan.

kisah ini dipetik dari Surah An-naml:

27-20: Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir.”

27-21: “Sungguh aku akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

27-22: Maka tidak lama kemudian datanglah ia (hud-hud), lalu ia berkata: "Aku mengetahui apa yang kamu belum mengetahuinya; dan aku bawa kepada kamu dari negeri Saba’, suatu berita yang diyakini (benar).”

27-23: “Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar.”

27-24: “Aku mendapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka, sehingga tertutuplah bagi mereka jalan. Maka mereka tidak mendapat petunjuk.”

27-25: “Bahawa (mereka) tidak bersujud kepada Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bum, dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”

27-26: “Allah, tiada Ilah (Tuhan) kecuali Dia, Rab (Tuhan) bagi ‘Arash yang besar.”

27-27: Berkata (Sulaiman): "Akan kami lihat, apakah kamu (hud-hud) benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”

27-28: “Pergilah dengan (membawa) suratku ini, dan jatuhkanlah ia kepada mereka, kemudian berpalinglah daripada mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka kembalikan (jawab).”

27-29: Berkata ia (Ratu Saba’): "Wahai pembesar-pembesar! Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sepucuk surat yang mulia.”

27-30: “Sesungguhnya ia daripada Sulaiman, dan sesungguhnya ia (menyebutkan): Bismillahi al-Rahman al-Rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani).

27-31: “Bahawa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai Muslimin (orang berserah diri).”

27-32: Berkata dia (Ratu Saba’): "Wahai para pembesar! Berilah fatwa kepadaku dalam urusan ini; aku tidak pernah memutuskan sesuatu perkara sebelum kamu menyaksikan.”

27-33: Mereka menjawab: "Kita adalah orang yang memiliki kekuatan dan memiliki keberanian yang sangat (tinggi), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”

27-34: Dia (Ratu Saba’) berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia (jadi) hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.”

27-35: “Dan sesungguhnya aku akan mengirim kepada mereka suatu hadiah, dan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan itu.”

27-36: Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata: "Adakah kamu (hendak) membantu aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya (Allah) kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.”

27-37: “Kembalilah kepada mereka! Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentera yang mereka tidak terdaya melawannya, dan kami akan mengusir mereka daripada negeri (Saba’) itu dengan terhina, dan mereka (dalam keadaan) tidak berharga.”

27-38: Berkata (Sulaiman): "Wahai pembesar-pembesar! Siapakah antara kamu yang sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai Muslimin (orang yang berserah diri)?”

27-39: Berkata 'Ifrit daripada (golongan) jin: "Aku akan datangkan kepada engkau singgahsana itu sebelum engkau berdiri daripada tempat duduk engkau. Dan sesungguhnya aku atasnya (membawa singgahsana itu), benar-benar kuat lagi boleh dipercayai.”

27-40: Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu daripada kitab: "Aku akan mendatangkannya (singgahsana itu) kepadamu sebelum matamu berkelip." Maka tatkala Sulaiman melihatnya (singgahsana itu) telah berada di hadapannya, dia pun berkata: "Ini termasuk kurnia Rab (Tuhan)ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan sesiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan sesiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rab (Tuhan)ku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia).”

27-41: Dia (Sulaiman) berkata: "Ubahlah baginya (Ratu Saba’) akan singgahsananya, maka kita akan melihat apakah dia mengenalinya ataukah dia termasuk orang yang tidak mengenal.”

27-42: Dan tatkala dia (Ratu Saba’) datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgahsana kamu?" Dia menjawab: "Ia seakan-akan ini! Dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya, dan kami adalah Muslimin (orang yang berserah diri).”

27-43: Dan menghalanginya apa yang dipertuhankannya (dahulu) selain Allah. Sesungguhnya dia (dahulunya) termasuk orang yang kafir.

27-44: Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana!” Maka tatkala dia melihatnya (lantai istana itu), disangkanya kolam air, lalu disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah dia (Sulaiman): "Sesungguhnya ia adalah istana yang dipergilapkan (dibuat) daripada kaca." Berkatalah dia (Ratu Saba’): "Rabbi (wahai tuhanku! Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, dan aku aslim (berserah diri) bersama Sulaiman, kepada Allah, Rab (Tuhan) sekalian alam.

Al-chong.. nama gelaran..

Friday, 19 October 2012

Peristiwa di bulan Zulhijjah

Oleh: Tariq Abdul Rahman

Bulan Zulhijjah merupakan bulan-bulan yang mempunyai kedudukan tertinggi di dalam jiwa umat Islam, iaitu salah satu bulan-bulan Haram dan bulan yang mengandungi beberapa peristiwa besar, yang paling utama dan paling besar ialah perhimpunan Islam sedunia sempena menunaikan fardu haji.

Di antara peristiwa di bulan yang agung ini:

1. Ghazwah dan peperangan

Pada 11 Zulhijjah 571H Salehuddin al-Ayubi Berjaya merempuh kubu kukuh yang menjadi tempat saliran air. Ia termasuk dalam strategi utama mewujudkan kesatuan Islam. Kubu ini Berjaya ditawan selepas berlaku pengepungan selama 38 hari. Salehuddin al-Ayubi mengukuhkan binaan kubu selepas menerima penyerahannya yang kini dikenali Qal’ah Sultan Salehuddin. Fungsinya menyamai yang diguna pakai bagi menyatukan tentera-tentera bersekutu yang terdiri dari tentera Halab dan tentera Salib Antakiyah.

Pada 4 Zulhijjah 616H kota Bukhara telah jatuh ke tangan tentera Moghul di bawah pimpinan Gengiz Khan selepas berlaku pengepungan selama tiga hari. Tentera Moghul telah memburu seluruh penduduk Bukhara dan menggunakan pedang kepada semua orang yang masih hidup di dalam kota dan mengakhiri kekejaman mereka dengan membakar seluruh kota!!.

2. Kelahiran

Pada 25 Zulhijjah 1326H lahir seorang sarjana besar Abdul Salam Muhammad Harun seorang “syaikhul muhaqqiqin” (penyelidik atau pengedit besar), perintis dalam seni penyelidikan khazanah silam dan meninggalkan puluhan bahan ilmiah Arab seperti buku-buku sastera dan bahasa yang diperakuinya. Antara yang paling utama ialah “Al-Kitab” karya Sibaweih, “Al-Hayawan” karya Al-Jahiz dan “Khazanah al-Adab” karya al-Baghdadi.

Pada 5 Zulhijjah 1335H lahir seorang pendakwah, muslih, faqih dan mujaddid Syeikh Muhammad al-Ghazali di Mesir dan menamatkan pengajiannya di Al-Azhar. Beliau menghabiskan usianya dengan menjalankan dakwah dan memusatkan dakwahnya dalam hal membaharui iman kepada Allah, memerangi kekerasan dan kezaliman, seruan kepada keadilan sosial, membebaskan dan membangkitkan umat.

3. Kewafatan

Pada 26 Zulhijjah tahun 27H Khalifah Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab telah terbunuh setelah ditikam oleh Abu Lukluk seorang Majusi yang dikatakan berdendam ketika beliau sedang memimpin solat. Saidina Umar telah dilantik menjadi khalifah selepas kewafatan Abu Bakar as-Siddiq. Beliau memerintah selama sepuluh tahun di mana jajaran Negara Islam telah bertambah luas. Pada masa pemerintahannya dipenuhi dengan keadilan dan kemuliaan kepada umat Islam. Pada zamannya juga Mesir dan al-Quds Berjaya dibuka.

Pada 18 Zulhijjah tahun 35H Khalifah Amirul Mukminin Uthman bin Affan r.a telah terbunuh di tangan orang-orang yang terpedaya dengan fitnah. Sumbangan utama Saidina Uthman ialah menghimpunkan al-Quran di dalam satu mushaf. Tempoh pemerintahannya selama 13 tahun. Beliau mendapat gelaran “Zu an-Nur’ain” kerana mengahwini dua puteri Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kalthum.

Pada 6 Zulhijjah tahun 158H Khalifah Abu Jaafar al-Mansur, pengasas sebenar Daulah Abbasiyah telah mangkat. Baginda telah Berjaya mengukuhkan tonggak dan sendi Daulah serta menyelesaikan semua fitnah dan kebangkitan rakyat yang wujud untuk menentangkannya. Sebagaimana yang diketahui baginda adalah seorang khalifah yang sangat mengambil berat tentang kebajikan dan urusan Negara. Baginda jugalah yang mengasaskan kota Baghdad dan seterusnya menjadinya sebagai ibukota Daulah Abbasiyah. Baginda telah mendapat nasihat secara langsung tentang pembinaannya dari Imam Abu Hanifah an-Nu’man.

Pada 26 Zulhijjah 206H al-Hakam bin Hisyam bin Abdul Rahman salah seorang raja Andalus yang terkenal telah mangkat. Baginda telah dilantik pada usia 26 tahun. Al-Hakam merupakan raja pertama yang mendapat kemuliaan di Andalus.

Pada 11 Zulhijjah 207 seorang sejarawan besar, Muhammad bin Umar al-Waqidi telah meninggal dunia. Beliau adalah sarjana ilmu al-Maghazi dan Sirah. Penulis kitab “Al-Maghazi”. Dilahirkan di Madinah dan memperolehi ilmu di tangan ulama setempat, kemudian menetap di Baghdad sehingga meninggal.

Pada tahun 286H Muhammad bin Yazid bin Abdul Akbar yang lebih dikenali dengan “Al-Mubarrad” telah meninggal dunia. Beliau digelar Al-Mubarrad, menurut satu riwayat kerana kecantikan wajahnya dan satu riwayat lain kerana ketelitian dan kepetahan jawapannya. Al-Mubarad adalah pemimpin sarjana ilmu Nahu tanpa sebarang pertikaian. Belaiu juga imam pada zamannya dalam bidang sastera dan bahasa yang diperolehi dari gurunya al-Mazny. Beliau hidup sezaman dengan 9 orang khalifah Abbasiyah. Di antara sumbangan al-Mubarrad ialah penulisan kitab “Al-Kamil” dalam bidang sastera dan bahasa.

Begitu juga pada tahun 463H di bulan Zulhijjah telah meninggal dunia al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit, yang lebih dikenali dengan “Al-Khatib al-Baghdadi” yang merupakan salah seorang imam Hadith dan sejarah pada kurun ke 5H. Beliau telah menghasilkan banyak karya tentang sejarah dan yang terkenal ialah “Tarikh Baghdadi”.


Thursday, 27 September 2012

Loser?

Bismillah.

Kadang-kadang anda mungkin rasa loser dengan apa yang anda buat. Tidak kira dalam soal pelajaran, dakwah dan tarbiyyah, mahupun pencapaian-pencapaian anda di dalam bidang ko-kurikulum serta bidang-bidang yang lain yang anda usahakan.

Mungkin anda juga sering bermonolog sendirian: ‘apa yang telah aku buat?’ ‘adakah aku telah menyumbangkan sesuatu kepada Islam?’ ‘mengapa aku tidak melihat sebarang perubahan kepada orang-orang di sekeliling yang telah diseru ke arah kebaikan?’ ‘hah, program tak ramai orang datang? Kenapa, mengapa, bagaimana, adakah dan segala persolan beratur di minda anda.

Dan anda akan mula rasa loser.

Kerana kadang-kadang anda menyukat rasa loser itu dengan ukuran pandangan masyarakat sekeliling anda, dengan sukatan manusia biasa yang mempunyai pelbagai expectation, tanggapan dan tidak kurang juga yang sarkastik.

Tetapi jangan risau. Bukan anda seorang sahaja yang loser. Mari kita lihat contoh mereka-mereka sebelum kita yang juga merupakan seorang ’loser’.


1. Nabi Yusuf

Jika kita hidup pada zaman Nabi Yusuf, kita mungkin akan merasakan bahawa beliau seorang ‘loser’. Tidak disukai abang-abang, dicampak ke dalam perigi, terpisah dengan bapa kandung, digoda oleh isteri pembesar, dan akhirnya meringkuk ke dalam penjara.

‘The perfect loser’. Mungkin itu pandangan anda.

Tetapi tidak bagi Allah. Bagi Dia Yusuf seorang yang istimewa. Tatkala semua manusia menganggapnya sebagai loser, Allah mengangkat baginda sebagai pembesar di Mesir dan memberi kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Dan Yusuf kelihatan sangat gagah dan tampan di situ.


2. Kisah Rasulullah dan Zaid bin Harithah di Thaif

Siapa yang tidak tahu kisah ini, kisah di mana kaki Rasulullah kesayangan anda telah berdarah akibat dilempar batu oleh penduduk Thaif yang tidak mahu menerima dakwah. Rasulullah mengesat darah yang mengalir dari kakinya, bimbang darah itu menitis ke bumi kerana tidak mahu bumi Thaif menjadi saksi bahawa mereka yang ‘masih belum beriman’ menyakiti baginda, lantas mengundang kemarahan Allah.

“Sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Siapa tahu mungkin mereka yang akan mengungkap kalimah la ilaaha illallah nantinya datang dari keturunan ini?” Dan Rasulullah tidak berhenti mengungkap doa.

Anda rasa ini ialah loser. Kenapa tidak saja meminta pertolongan malaikat melemparkan gunung ke atas mereka? Biar mereka rasa. Mereka sudah terlalu jahat kepada baginda.

Loser? Allah wa rasuuluhu a’lam.

Selepas baginda wafat, sebahagian ummat Islam keluar dari deen dan keadaan di jazirah Arab pada waktu itu kecoh dan kacau. Wujud juga beberapa kumpulan yang menentang Islam yang sewaktu itu di bawah pimpinan khalifah Saidina Abu Bakar As-Siddiq.

Tetapi anda tahu tak siapakah yang memberi sokongan yang kuat kepada khalifah?

Penduduk Makkah dan Thaif. Ya, yang anda rasa dah takde harapan tu.

Mereka mempertahankan Islam dengan bergaya di ambang kekacauan itu.

Dan banyak lagi kisah-kisah loser yang lain. Kisah perjanjian Hudaibiyah, Perang Yarmouk dan sebagainya.

Oh ye, tak lengkap pula rasanya jika kita terlepas pandang kisah-kisah loser abad ini. Ye lah, dah zaman millenium kan, ada lagi ke kisah-kisah loser?

Ada.


1. Kemusnahan WTC

Satu dunia kecoh dengan peristiwa ini dan menuduhnya didalangi oleh orang Islam. Arghh, losernya. Semua nak tuduh orang Islam. Apa–apa yang berkaitan dengan bom dan keganasan, semua orang Islam yang buat.Ish.

Loser ke ummat Islam?

Tak. Selepas kejadian tu, kan berbondong-bondong rakyat Amerika memeluk agama Islam. Pada mulanya, mereka mesti rasa curious kenapa semua orang tuduh orang Islam yang buat. Lepas dah kaji Islam secara mendalam, mereka tak percaya propaganda yang disebarkan kerajaan mereka. Mereka masuk Islam dengan kepercayaan yang teguh dan iman yang mengakar kuat.


2. Filem ‘Innocence of Muslim’

Kurang ajar betul Sam Bacile ni, sesuka hati je buat filem yang menghina Rasulullah. Ish, losernya. Kenapa dari dulu lagi akan selalu ada orang yang tak puas hati dengan Nabi? Lukis kartun Nabi la, bakar Al-Quran la.

Loser ke ummat Islam?

Tak langsung. Ketinggian martabat Rasulullah bukan diberikan oleh manusia, tetapi oleh Allah. Fuh, kalau Allah dah bagi pangkat yang mulia kat Nabi, takde maknanya orang lain nak rendah-rendahkan. Sudah termaktub dalam kitab, untuk Rasulullah - maqaman mahmuudan (maqam yang terpuji). Tak boleh ubah.

Dan mesti masyarakat barat tertanya-tanya, kenapa la dari dulu selalu je ada orang yang nak buat sesuatu untuk insult nabi? Mesti la orang ni istimewa dan ada sesuatu yang tiada pada orang lain.

Haa, mesti mereka curious nak tahu kan? Itu kan sikap mereka, suka mengkaji dan mendalami sesuatu. Mana tahu, bertitik-tolak dari peristiwa ini, mereka akan mula mengkaji tentang Rasulullah dan pada akhirnya, mereka pasti akan mengetahui bahawa keperibadian Rasulullah tersangatlah mantap dan ‘osem’.

Kan?

Allah wa rasuuluhu a’lam.



Kalau mengukur loser dari neraca timbangan manusia, memang kita akan rasa loser. Dah study bagai nak rak, tapi tak boleh score, aduh,memang rasa loser habis.

Tapi itu di sisi manusiawi kita dan orang lain.

Kalau kita belajar dengan niat yang ikhlas, semuanya kerana Allah, dah study sungguh-sungguh, tapi result tak best, semuanya kembali kepada Allah.

Allah tahu yang terbaik.

Kita sibuk berdakwah dan mengajak orang kepada kebaikan, tapi takde seorang pun nak ikut, jangan rasa loser.

Kita hanya mampu berusaha, segalanya dikembalikan kepada Allah, Dialah yang maha memberi hidayah.

Jangan sesekali mengukur tahap loser itu mengikut logik akal kita,tapi ukurlah dengan pandangan Allah. Allah tak melihat hasil, tetapi Allah lihat usaha dan keikhlasan yang kita berikan. Segala-galanya lillaahi taa’la.

Kita tidak mahu mengikut jejak langkah makhluk yang berbicara seperti ini:

“Aku dari api, dia dari tanah. Maka aku lebih mulia dari dia.”

Berbicara mengikut logik akal semata-mata, kadang-kadang mengundang padah.

Semoga Allah sentiasa memberi kita petunjuk.

Source: